Senin, 20 Februari 2017

Komunikasi Antar Hewan




         Studi dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa manusia ditakdirkan memiliki otak yang berbeda dengan primata lainnya, baik dalam struktur maupun fungsi. Pada manusia ada bagian-bagian otak yang dikhususkan untuk kebahasaan, sedangkan pada binatang bagian-bagian ini tidak ada. Pada makhluk lain seperti simpanse dan gorila juga tidak terdapat daerah-daerah yang dipakai untuk memproses bahasa (Darjdowidjojo, 2010:208). Dari segi biologi, manusia juga ditakdirkan memiliki struktur biologi yang berbeda dengan binatang. Mulut manusia misalnya, memiliki struktur yang memungkinkan manusia untuk mengeluarkan bunyi yang berbeda-beda. Ukuran ruang mulut dalam bandingannya dengan lidah, kelenturan lidah, dan tipisnya bibir membuat manusia mampu untuk menggerak-gerakkannya secara mudah untuk menghasilkan bunyi-bunyi yang distingtif (Dardjowidjojo 2014:4).
Cara komunikasi antar hewan itu tidak sama seperti manusia. Hewan tidak memiliki kemampuan menggunakan bahasa sebagai media berkomunikasi sebagaimana manusia. Namun, hewan punya cara tersendiri untuk berkomunikasi. Yaitu misalnya dengan komunikasi verbal atau suara dan komunikasi non verbal seperti bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan lain-lain.
            Yang pertama yaitu komunikasi verbal, misalnya pesan suara. Suara adalah salah satu jenis dari komunikasi verbal pada hewan yang paling umum. Contohnya : pada hewan burung. Semua burung berkomunikasi melalui kicauan. Gelombang suara inilah yang mereka gunakan untuk berkomunikasi. Selain itu, anjing dan kucing juga menggunakan berbagai suara untuk menyampaikan pesan kepada sesamanya. Yang kedua, yaitu melalui komunikasi non verbal misalnya ekspresi wajah. Jenis komunikasi ini kebanyakan ditemukan pada anjing. Ketika marah, anjing akan menyeringai dan menegakkan telinganya. Sebaliknya saat takut mereka akan menarik telinganya kebelakang dan menegakkan telinganya.


Daftar Pustaka :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar