Senin, 06 Maret 2017

Bahasa Baku dan Bahasa Tidak Baku


     A. Pengertian Bahasa Baku
Halim (1980) menyatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian masyarakat, dipakai sebagai ragam resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya. Pei dan Geynor (1954:203) menyatakan bahwa bahasa baku adalah dialek suatu bahasa yang memiliki keistimewaan sastra dan budaya melebihi dialek-dialek lainnya, disepakati penutut dialek-dialek lain sebagai bahasa yang paling sempurna.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1988 : 71), kata baku juga ada dijelaskan.
baku I
(1)  pokok, utama; (2) tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas atau kualitas dan yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan; standar;
Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, Badudu dan Zain menjelaskan makna kata baku.
baku I
(Jawa) yang menjadi pokok; (2) yang utama; standar.
baku II
Bahasa baku ialah bahasa yang menjadi pokok, yang menjadi dasar ukuran, atau yang menjadi standar.
Penjelasan makna kata itu tentu saja belum cukup untuk memahami konsep yang sesungguhnya. Di dalam bahasa baku itu terdapat 3 aspek yang saling menyatu, yaitu kodifikasi, keberterimaan, difungsikan sebagai model. Ketiganya dibahas di bawah ini.
Istilah kodifikasi adalah terjemahan dari “codification” bahasa Inggris. Kodifikasi diartikan sebagai hal memberlakukan suatu kode atau aturan kebahasaan untuk dijadikan norma di dalam berbahasa (Alwasilah, 1985 :121). Masalah kodifikasi berkait dengan masalah ketentuan atau ketetapan norma kebahasaan. Norma-norma kebahasaan itu berupa pedoman tata bahasa, ejaan, kamus, lafal, dan istilah. Kode kebahasaan sebagai norma itu dikaitkan juga dengan praanggapan bahwa bahasa baku itu berkeseragaman. Keseragaman kode kebahasaan diperlukan bahasa baku agar efisien, karena kaidah atau norma jangan berubah setiap saat. Kodifikasi kebahasaan juga dikaitkan dengan masalah bahasa menurut situasi pemakai dan pemakaian bahasa. Kodifikasi ini akan menghasilkan ragam bahasa. Perbedaan ragam bahasa itu akan tampak dalam pemakaian bahasa lisan dan tulis. Dengan demikian kodifikasi kebahasaan bahasa baku akan tampak dalam pemakaian bahasa baku.
Bahasa baku atau bahasa standar itu harus diterima atau berterima bagi masyarakat bahasa. Penerimaan ini sebagai kelanjutan kodifikasi bahasa baku. Dengan penerimaan ini bahasa baku mempunyai kekuatan untuk mempersatukan dan menyimbolkan masyarakat bahasa baku. Bahasa baku itu difungsikan atau dipakai sebagai model atau acuan oleh masyarakat secara luas. Acuan itu dijadikan ukuran yang disepakati secara umum tentang kode bahasa dan pemakaian bahasa di dalam situasi tertentu atau pemakaian bahasa tertentu.
1.     Pengertian Bahasa Indonesia Baku
Bahasa Indonesia baku adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang bentuk bahasanya telah dikodifikasi, diterima, dan difungsikan atau dipakai sebagai model oleh masyarakat Indonesia secara luas.
2.     Fungsi Bahasa Baku
Bahasa Indonesia baku mempunyai empat fungsi, yaitu pemersatu, penanda kepribadian, penambah wibawa dan kerangka acuan.
a)    Bahasa Indonesia baku berfungsi pemersatu.
Bahasa Indonesia baku mempersatukan atau memperhubungkan penutur berbagai dialek bahasa itu. Bahasa Indonesia baku mempersatukan mereka menjadi satu masyarakat bahasa Indonesia baku. Bahasa Indonesia baku mengikat kebhinekaan rumpun dan bahasa yang ada di Indonesia dengan mangatasi batas-batas kedaerahan. Bahasa Indonesia baku merupakan wahana ataualat dan pengungkap kebudayaan nasional yang utama. Fungsi pemersatu ini ditingkatkan melalui usaha memberlakukannya sebagai salah satu syarat atau ciri manusia Indonesia modern.
b)    Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai penanda kepribadian. 
Bahasa Indonesia baku merupakan ciri khas yang membedakannya dengan bahasa-bahasa lainnya. Bahasa Indonesia baku memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat bahasa Indonesia baku. Dengan bahasa Indonesia baku kita menyatakan identitas kita. BahasaIndonesia baku berbeda dengan bahasa Malaysia atau bahasa Melayu di Singapura dan Brunai Darussalam. Bahasa Indonesia baku dianggap sudah berbeda dengan bahasa Melayu Riau yang menjadi induknya.
c)    Bahasa Indonesia baku berfungsi penambah wibawa.
Pemilikan bahasa Indonesia baku akan membawa serta wibawa atau prestise. Fungsi pembawa wibawa berkaitan dengan usaha mencapai kesederajatan dengan peradaban lain yang dikagumi melalui pemerolehan bahasa baku. Di samping itu, pemakai bahasa yang mahir berbahasa Indonesia baku “dengan baik dan benar” memperoleh wibawa di mata orang lain. Fungsi yang meyangkut kewibawaan itu juga terlaksana jika bahasa Indonesia baku dapat dipautkan dengan hasil teknologi baru dan unsur kebudayaan baru. Warga masyarakat secara psikologis akan mengidentifikasikan bahasa Indonesia baku dengan masyarakat dan kebudayaan modern dan maju sebagai pengganti pranata, lembaga, bangunan indah, jalan raya yang besar.
d)    Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai kerangka acuan. 
Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai kerangka acuan bagi pemakainya dengan adanya norma atau kaidah yang dikodifikasi secara jelas. Norma atau kaidah bahasa Indonesia baku itu menjadi tolok ukur pemakaian bahasa Indonesia baku secara benar. Oleh karena itu, penilaian pemakaian bahasa Indonesia baku dapat dilakukan. Norma atau kaidah bahasa Indonesia baku juga menjadi acuan umum bagi segala jenis pemakaian bahasa yang menarik perhatian karena bentuknya yang khas, seperti bahasa ekonomi, bahasa hukum, bahasa sastra, bahasa iklan, bahasa media massa, surat-menyurat resmi, bentuk surat keputusan, undangan, pengumuman, kata-kata sambutan, ceramah, dan pidato.
3.     Ciri-ciri Bahasa Baku
Ciri-ciri bahasa Indonesia baku dan bahasa Indonesia nonbaku telah dibuat oleh para pakar bahasa dan pengajaran bahasa Indonesia. Mereka itu antara lain Harimurti Kridalaksana, Anton M. Moeliono, dan Suwito. Ciri-ciri bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia nonbaku itu dibeberkan di bawah ini setelah merangkum ciri-ciri yang ditentukan atau yang telah dibuat oleh para pakar tersebut. Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku sebagai berikut:
a)    Pelafalan sebagai bagian fonologi bahasa Indonesia baku adalah pelafalan yang relatif bebas dari atau sedikit diwarnai bahasa daerah atau dialek.
Misalnya :
1.      Keterampilan menjadi ketrampilan
2.      Aktif menjadi aktip
3.      Apotek menjadi apotik
4.      Karena menjadi karna
5.      Nasihat menjadi nesehat
b)    Bentuk kata yang berawalan me- dan ber- dan lain-lain sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kata.
Misalnya:
1.      Banjir menyerang kampung yang banyak penduduknya itu.
2.      Kuliah sudah berjalan dengan baik.
3.      Adik sedang bebicara kepada Ayah.
4.      Shinta menyanyi di acara pernikahan kakaknya.
5.      Lana sedang bermain di halaman rumah.
c)    Konjungsi sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
Misalnya:
1.    Sampai dengan hari ini ia tidak percaya kepada siapa pun, karena semua di anggapnya penipu.
2.      Ali suka memakan daging sapid dan daging ayam.
3.      Mita ingin pergi bermain, tetapi Ibunya melarangnya.
4.      Tono ingin menjadi polisi, sedangkan Toni ingin menjadi dokter.
5.   Ia sudah bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, namun itu semua masih belum cukup.
d)    Partikel –kah, -lah dan ­–pun sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
Misalnya:
1.      Bacalah buku itu sampai selesai!
2.      Bagaimanakah cara kita memperbaiki kesalahan diri?
3.      Apakah yang dimaksud dengan integrasi nasional ?
4.      Siapapun orangnya kita sebagai manusia harus tetap menolongnya.
5.      Bagaimanapun caranya kita tetap harus bisa melaksanakannya.
e)    Preposisi atau kata dengan sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku dituliskan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
Misalnya:
1.      Saya bertemu dengan adiknya kemarin.
2.      Ia benci sekali kepada orang itu.
3.      Dita sedang pergi berlibur dengan keluarganya.
4.      Adi meminta maaf kepada Ibunya.
5.      Budi bermain futsal dengan teman-temannya.
f)     Bentuk kata ulang sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap sesuai dengan fungsi dan tempatnya di dalam kalimat.
Misalnya:
1.      Mereka-mereka itu harus diawasi setiap saat. 
2.      Semua negara-negara melaksanakan pembangunan ekonomi. 
3.      Suatu titik-titik pertemuan harus dapat dihasilkan dalam musyawarah itu.
4.      Seluruh Ibu-ibu PKK sedang melaksanakan senam pagi.
5.      Rumah-rumah di komplek tersebut sangat bersih.

g)    Kata ganti atau polaritas tutur sapa sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap dalam kalimat. 
Misalnya:
1.      Saya – anda bisa bekerja sama di dalam pekerjaan ini.
2.      Aku – engkau sama-sama berkepentingan tentang problem itu.
3.      Saya – Saudara memang harus bisa berpengertian yang sama.
4.      Aku – kamu sama-sama mengerjakan tugas itu di perpustakaan.
5.      Saya – Beliau pergi makan siang di restoran.
h)   Pola kelompok kata kerja aspek + agen + kata kerja sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis dan diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
Misalnya:
1.      Surat Anda sudah saya baca.
2.      Kiriman buku sudah dia terima.
3.      Buku itu sudah mereka simpan.
4.      Sepatu kamu sudah saya bayar.
5.      Pakaian Ibu sudah dia cucikan.
i)     Konstruksi atau bentuk sintesis sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
Misalnya:
1.      Saudaranya
2.      Dikomentari
3.      Mengotori
4.      Harganya
5.      Mematahi
j)  Fungsi gramatikal (subyek, predikat, obyek sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
Misalnya:
1.      Kepala Kantor pergi keluar negeri.
2.      Rumah orang itu bagus.
3.      Nina pergi ke rumah sakit.
4.      Boneka itu sangat cantik.
5.      Dika sedang bermain kelereng di halaman rumah
k)    Struktur kalimat baik tunggal maupun majemuk ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku di dalam kalimat.
Misalnya:
1.  Mereka sedang mengikuti perkuliahan dasar-dasar Akuntansi I. Sebelum analisis data dilakukannya, dia mengumpulkan data secara sungguh-sungguh.
l)     Kosakata sebagai bagian semantik bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
Misalnya:
1.      Mengapa
2.      Tetapi
3.      Bagaimana
4.      Memberitahukan
5.      Hari ini
m)  Ejaan resmi sebagai bagian bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap baik kata, kalimat maupun tanda-tanda baca sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
n)   Peristilahan baku sebagai bagian bahasa Indonesia baku dipakai sesuai dengan Pedoman Peristilahan Penulisan Istilah yang dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Purba, 1996 : 63 – 64). 
  1. Pengertian Bahasa Tidak Baku
Istilah bahasa non baku ini terjemahan dari “nonstandard language”. Istilah bahasa nonstandar ini sering disinonimkan dengan istilah “ragam subbaku”, “bahasa nonstandar”, “ragam takbaku”, bahasa tidak baku”, “ragam nonstandar”.
Suharianto berpengertian bahwa bahasa nonstandar atau bahasa tidak baku adalah salah satu variasi bahasa yang tetap hidup dan berkembang sesuai dengan fungsinya, yaitu dalam pemakaian bahasa tidak resmi (1981 : 23).
Alwasilah berpengertian bahwa bahasa tidak baku adalah bentuk bahasa yang biasa memakai kata-kata atau ungkapan, struktur kalimat, ejaan dan pengucapan yang tidak biasa dipakai oleh mereka yang berpendidikan (1985 : 116).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, jelas bahwa bahasa nonstandar adalah ragam yang berkode bahasa yang berbeda dengan kode bahasa baku, dan dipergunakan di lingkungan tidak resmi. Bahasa Indonesia tidak baku adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang tidak dikodifikasi, tidak diterima dan tidak difungsikan sebagai model masyarakat Indonesia secara luas, tetapi dipakai oleh masyarakat secara khusus.

C.    Contoh Kata Baku dan Tidak Baku

Kata Baku
Kata Tidak Baku
Aktif
Aktip
Pasif
Pasip
Apotek
Apotik
Efektif
Efektip
Karena
Karna
Foto
Poto
Biosfer
Biosfir
Bus
Bis
Objek
Obyek
November
Nopember
Praktik
Praktek
Negeri
Negri
Teknik
Tekhnik
Daftar
Daptar
Nasihat
Nasehat
Bagaimana
Gimana
Asas
Azas
Atlet
Atlit
Cabai
Cabe
Detail
Detil


























                                                                                                                      

Contoh Kalimat :
1.      Dita aktif dikegiatan pramuka di sekolahnya.
2.      Ali tergolong siswa yang pasif di kelasnya.
3.      Andi mengambil obat di apotek Tarakan.
4.      Ia menyelesaikan masalah dengan cara yang efektif untuk digunakan.
5.      Novi tidak masuk sekolah karena sedang di rawat dirumah sakit.
6.      Ibu memasang foto keluarga di dinding rumah.
7.      Ika sedang mempelajari materi tentang biosfer laut.
8.      Nenek pergi ke kampung menggunakan bus.
9.      Objek kajian dari penelitian tersebut adalah masyarakat yang tidak mampu.
10.  Nisa lahir pada bulan November.
11.  Lina akan mengikuti ujian praktik fisika 3 hari lagi.
12.  Negeri itu kaya akan barang tambang.
13.  Apa ysng kamu ketahui mengenai teknik pahat ?
14.  Sebelum ke pasar, Ibu sudah terlebih dahulu membuat daftar belanjaan.
15.  Bagi Ari, nasihat Ibu Guru masuk seperti ke teling kanan dan keluar ke telinga kiri.
16.  Bagaimana cara mematikan komputer itu ?
17.  Asas kekeluargaan ialah asas yang diutamakan dalam keluarga.
18.  Atlet sepak bola terkenal itu telah mencetak gol yang indah.
19.  Kakak tidak suka memakan cabai.
20.  Tolong ceritakan secara detail mengenai sejarah kota Tarakan.

Sumber :
Zainal Nusyirwan. 2013. Bahasa baku dan Non Baku dalam Bahasa Indonesia. (online)                    
Vicosta Efran. 2011. EYD Ejaan Yang Disempurnakan dan Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: JAL Publishing.
Fatya Permata Anbiya. 2010. Panduan EFD dan Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Transmedia.
Rukanah. 2016. Penggunaan Kata Baku dan Tidak Baku dalam Bahasa Indonesia. (online)                         


Tidak ada komentar:

Posting Komentar